“Bayangkan seluruh buku, yang ada di sekeliling kita, bagaikan makanan yang paling kita sukai. Apa yang akan terjadi? Tentu kita akan melahap buku-buku itu dengan kenikmatan yang tiada tara. Tentu kita akan memakan buku-buku itu setiap hari, sebagaimana kita sarapan, makan siang, kemudian makan malam, diselingi oleh ngemil pada sore hari atau saat lain.”

Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza - Hernowo

Membuat seseorang suka membaca memang memiliki tantangan tersendiri, apalagi di tengah-tengah gempuran kemajuan teknologi digital di zaman milenial seperti saat ini. Sudah banyak upaya dilakukan oleh berbagai pihak untuk meningkatkan budaya membaca, terutama di kalangan usia dewasa, namun rasa-rasanya masih belum cukup maksimal hasilnya jika dibandingkan dengan yang tidak suka membaca. Tak usah jauh-jauh kita berbicara tentang data statistik yang rumit. Coba kita lihat saja di sekitar kita, seberapa banyak orang dewasa yang kita kenal suka membaca? Bandingkan dengan yang tidak suka membaca, lebih banyak kelompok yang mana?

Gambaran Umum Dunia Literasi Kita

Sebetulnya kita patut bersyukur dengan perkembangan dunia literasi kita beberapa tahun belakangan ini yang semakin membaik. Ketersediaan buku di berbagai daerah perlahan-lahan bertambah dan semakin berkualitas. Sarana dan prasarana perpustakaan tak ketinggalan diperbaiki dan kian memudahkan masyarakat. Program literasi marak digaungkan di sekolah-sekolah. Pameran dan toko buku cukup ramai dikunjungi masyarakat. Dunia kepenulisan dan penerbitan pun turut menyokong kemajuan ini. Namun, tak bisa dipungkiri juga, bahwa problematika dunia literasi kita masih banyak.

Enggan membaca di kalangan dewasa bukanlah satu-satunya masalah yang kita temukan di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Di kalangan usia anak-anak, beberapa kali saya menemukan kondisi di mana ada banyak anak usia 7-9 tahun yang sebetulnya sangat antusias terhadap buku setiap kali berkunjung ke perpustakaan, tetapi saat membacanya terlihat belum lancar. Mereka cenderung asyik menikmati gambar yang menarik dari buku-buku yang ada.

Lain lagi dengan kasus sebagian anak yang sudah lancar membaca, namun saat ditanya tentang apa buku yang mereka baca itu, mereka justru bingung menjawabnya karena mengalami kesulitan dalam memahami dan menalarkan isi buku. Itu belum seberapa! Yang lebih parahnya lagi, masih banyak juga ternyata anak-anak yang tidak tertarik membaca buku sama sekali dibandingkan bermain gawai. Dan ini juga terjadi pada kalangan remaja.

Belum lagi maraknya penyebaran informasi hoax di masyarakat yang tak butuh waktu lama. Hanya dalam hitungan detik saja, berita-berita yang tidak jelas kebenarannya akan segera viral. Masyarakat dengan mudahnya percaya tanpa perlu membaca dan menganalisanya lebih lanjut.

Tak hanya itu, semakin memburuknya karakter dan moral anak-anak zaman sekarang adalah tantangan lain bagi dunia pendidikan. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, “Mengapa bisa terjadi pemandangan seperti ini?

Menurut saya, ini terjadi karena budaya literasi kita masih belum merata tumbuh di seluruh aspek masyarakat. Umumnya orang belum menganggap penting sebuah buku atau manfaat membaca dan menulis. Nah, ketidak merataan budaya literasi ini akhirnya memengaruhi banyak aspek kehidupan.

Mengapa Perlu Membudayakan Literasi?

Membaca adalah bagian dari budaya literasi yang sebetulnya memiliki banyak sekali manfaat. Selain menambah pengetahuan dan menjauhkan dari kecanduan gawai, membaca buku juga dapat menumbuhkan saraf-saraf di kepala. Jalur neuronal otak kita sangatlah lentur sehingga akan terus tumbuh menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan dari kebiasaan kita. Saat kita terbiasa dengan aktivitas membaca, pertumbuhan saraf otak akan semakin berkembang dan saling terhubung.

Membaca buku juga dapat melatih kita untuk tetap berpikir karena, ketika membaca buku, kita harus memusatkan perhatian dan konsentrasi agar mudah memahami apa yang dibaca.

Menambah perbendaharaan kosakata

Meningkatkan kemampuan berkomunikasi

Melatih kemampuan berpikir logis

Mengembangkan imajinasi dan kreativitas

Membuka cakrawala

Di dalam bukunya yang berjudul “Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza”, Hernowo, salah seorang penulis yang telah berkecimpung di dunia penerbitan buku selama 20 tahun lebih, menukil penelitian yang dilakukan oleh Dr. C. Edward Coffey, salah seorang peneliti di Henry Ford Health System, yang meneliti struktur otak sejumlah 320 orang berusia 66 hingga 90 tahun. Dalam penelitiannya itu, ia menemukan sebuah fakta unik, bahwa pikun atau demensia akibat rusaknya jaringan otak bisa dicegah dengan banyak membaca. Kebiasaan membaca dan berpikir secara mendalam dapat menciptakan semacam lapisan penyangga yang melindungi dan mengganti-rugi perubahan otak.

Apa gunanya, sih, pengetahuan yang kita dapat dari membaca?

Kutipan

DARI BUKU

 

The more that you read, the more things you will know. The more that you learn, the more places you’ll go.”

– Dr. Seuss

Kutipan kata-kata Dr. Seuss dari buku cerita anak yang berjudul “I Can Read With My Eyes Shut!” ini cukup mewakili jawaban dari pertanyaan di atas. Semakin banyak kita membaca, semakin banyak hal yang kita ketahui dan pahami. Semakin banyak yang kita pelajari, semakin bijak kita bersikap.

Menumbuhkan budaya literasi, menurut saya, bukanlah hanya sekadar menumbuhkan budaya bisa membaca saja, namun juga menumbuhkan minat yang kuat untuk membaca secara mendalam sehingga apa yang dibaca kemudian bisa dipahami. Kita tahu lah, ya, bahwa pengetahuan itu didapat lewat membaca. Kemampuan membaca seperti ini akan membuat si pembaca mengerti, merefleksikan dan menggunakan hasil bacaannya ke dalam bentuk tulisan. Inilah sebenarnya sasaran literasi, meningkatkan kualitas hidup.

Coba bayangkan seandainya masyarakat Indonesia, tua dan muda, mayoritas suka membaca buku. Semakin banyak yang mereka baca, mereka akan memahami lebih banyak hal yang pastinya sangat berguna bagi kehidupan. Mereka jadi lebih mengenal banyak karakter manusia, menelusuri berbagai tempat dan budaya, mengerti cara hidup orang lain, memahami hukum dan aturan, mengetahui mana yang benar dan salah, sekaligus menggali banyak potensi yang bisa dipraktikkan dalam kehidupan, entah di bidang sosial, ekonomi, pendidikan, atau aspek lainnya. Efeknya, masyarakat menjadi melek ilmu pengetahuan. Memiliki banyak bahan untuk dibaca biasanya akan memotivasi seseorang untuk belajar lebih banyak lagi. Pemahaman yang baik akan meningkatkan kualitas hidup seseorang.

Pada akhirnya, berbicara tentang menumbuhkan budaya literasi adalah berbicara tentang menumbuhkan peradaban.

Upaya Menumbuhkan Budaya Literasi = Menumbuhkan Peradaban

Menganggap Buku seperti Makanan Kesukaan Kita

Hernowo sudah memberi tahu kita belasan tahun yang lalu, masih di dalam bukunya yang berjudul “Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza”, tentang bagaimana cara membuka gembok yang menyebabkan seseorang enggan membaca. Gagasannya yang menganggap buku bagaikan makanan kesukaan sangatlah unik. Ia ingin mengubah buku menjadi sesuatu yang ringan dan menyenangkan, seperti makanan kesukaan kita yang membuat kita bahagia. Kita pasti senang saat makanan lezat masuk ke mulut, ‘kan? Lantas bagaimana cara agar orang-orang menyukai buku seolah makanan kesukaan?

Begini. Menumbuhkan budaya literasi tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Ada banyak aspek yang harus kita benahi. Kita membutuhkan peran serta dan kerjasama berbagai elemen bangsa. Saya lebih suka membagi upaya menumbuhkan budaya literasi ini ke dalam 3 elemen: keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Ketiga elemen ini harus saling bersinergi jika ingin benar-benar membangun budaya literasi Indonesia. Yuk, mari kita lihat satu per satu! Seperti apa peran ketiga elemen ini?

Peran Keluarga: Sebagai Akar

Keluarga adalah akar bagi terbentuknya karakter seorang anak. Untuk membangun budaya literasi yang kental, melakukan pembiasaan sejak dini adalah hal yang paling krusial. Memang, bukan hal yang mustahil untuk mengubah mindset dan kebiasaan orang dewasa untuk senang membaca, namun pastinya akan membutuhkan waktu dan tenaga yang lumayan besar. Mengubah kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru tidaklah mudah. Karena alasan inilah, membentuk budaya literasi akan lebih mudah dilakukan sejak usia anak-anak.

Di usia-usia awal, perkembangan otak seorang anak biasanya sangat cepat. Mereka adalah pembelajar yang sangat mudah merekam dan mengikuti segala yang didengar dan dilihat. Anak-anak mudah meniru dari sekitarnya. Maka, peran keluarga menjadi penting kemudian dalam memanfaatkan masa-masa emas ini untuk membangun minat membaca anak terhadap buku dan kegiatan literasi. Agar anak-anak gemar membaca buku, maka keluarga perlu mengenalkan dan mendekatkan mereka pada buku sejak dini.

Berikut ini adalah cuplikan video yang dibuat oleh GLN Kemdikbud tentang pentingnya membacakan buku sejak dini kepada anak.

Video ini sangat bagus alurnya. Beginilah gambaran perbandingan yang akan terjadi pada anak-anak yang dibacakan buku sejak dini dengan yang tidak.

Sumber: Kemdikbud

Contohnya di keluarga saya. Saya tumbuh besar di antara buku-buku. Ibu saya sangat gemar buku dan membaca. Menurut cerita orangtua saya, sejak saya dan adik-adik balita, mereka rutin membacakan buku sebelum kami tidur. Ketika saya kemudian duduk di bangku sekolah dasar, ibu saya sering membacakan cerita, membawa kami berjalan-jalan ke toko buku, dan berlangganan majalah anak. Secara otomatis masa kecil saya sangat akrab dengan buku.

Jadi, bagaimana caranya agar anak akrab dengan buku dan membangun budaya literasi mereka? Berikut beberapa tips yang saya rangkum berdasarkan pengalaman selama ini di keluarga dan lingkungan yang bersinggungan dengan keseharian saya.

Membiasakan Baca Buku sejak Anak di dalam Kandungan

Banyak orang beranggapan bahwa membacakan buku bagi anak bayi adalah sebuah pekerjaan yang sia-sia karena bayi tidak akan mengerti apa yang kita baca. Saya berani bilang kalau anggapan seperti ini adalah sebuah kesalahan persepsi. Bahkan, janin yang ada di dalam kandungan pun sudah bisa mendengar suara-suara di sekitarnya pada usia kehamilan tertentu. Saat seperti ini, orangtua sangat dianjurkan untuk membacakan dengan suara lantang (read aloud) buku-buku cerita ringan dan sederhana sembari berkomunikasi dengan janin yang ada di perut sang ibu. Ini sangat berguna agar anak merasa familiar dengan bahasa ibu.

Sumber Foto: Booktrust.org.uk

 

Mengenalkan Buku pada Anak Usia 0-5 tahun

Bayi yang baru lahir, yang masih berusia 0 tahun, sudah bisa mulai kita kenalkan dengan buku jika ingin mereka akrab dengan buku. Apalagi yang berusia balita hingga usia 5 tahun, minat terhadap buku sangat penting kita tumbuhkan.

Berikut ini adalah beberapa tips yang bisa dilakukan berdasarkan pengalaman yang saya dapatkan dan terapkan di dalam keluarga.

  1. Membaca nyaring (read aloud) buku cerita kepada anak.

Orangtua masih perlu membacakan buku secara nyaring kepada anak di usia ini. Membaca nyaring yang dimaksud di sini bukanlah sekadar membaca dengan suara lantang, melainkan juga dengan intonasi yang berubah-ubah dan ekspresi yang sesuai. Sesekali suara kita meninggi, sesekali melemah. Cara ini akan memunculkan irama yang unik dan membuat anak tertarik untuk mendengar cerita sembari berkomunikasi dengan mereka. Seluruh pengalaman ini akan direkam oleh otak anak.

  1. Membacakan buku sebelum tidur.

Saat anak-anak mendengarkan dongeng sebelum tidur, otak mereka akan menyerap kosakata dengan mudah. Efeknya, memori anak akan meningkat. Selain itu, membacakan buku pada anak sebelum tidur juga dapat membangun kedekatan orangtua dengan anak. Ini akan meningkatkan kualitas hubungan antara keduanya.

  1. Rajin membuka buku bersama anak.

Selain waktu sebelum tidur, sesering mungkin sempatkan membuka buku bersama anak di waktu-waktu yang lain. Tak perlu lama, sekadar 5-10 menit membuka satu atau dua halaman buku dengan ilustrasi gambar yang menarik sudah cukup membangkitkan minat anak terhadap buku.

  1. Pilih buku yang tepat.

Memilih buku yang tepat sesuai usia anak adalah hal penting. Beberapa jenis buku yang bisa menjadi pilihan berdasarkan usia anak, yaitu:

  • Untuk anak usia 0-1 tahun, buku berjenis board book, buku bantal, buku busa atau yang berbahan aman lainnya adalah pilihan yang tepat.

Bayi memiliki cara unik untuk menunjukkan ketertarikan pada buku. Biasanya mereka akan memukul-mukulkan buku ke lantai, menarik halamannya, menggigit-gigit buku yang dipegang, atau aktivitas ekstrem lainnya yang bisa membuat buku rusak atau membahayakan sang bayi. Kita juga bisa memilih buku dengan gambar ilustrasi yang menarik dan warna mencolok bagi kelompok usia ini.

Buku Bantal
Buku Bergeser
  • Bagi anak usia 1-3 tahun, kita bisa memilih jenis buku yang lebih interaktif, misalnya buku bersuara, buku bergeser, atau jenis buku lainnya yang dapat merangsang anak untuk menggerakkan obyek geser di dalam buku, menirukan suara, dan aktivitas lainnya.
  • Sedangkan untuk anak usia 4-5 tahun, buku minim kata sangat cocok digunakan. Buku yang lebih dominan gambar ini akan merangsang anak untuk berimajinasi dan berkreasi menceritakan sendiri apa yang disuguhkan oleh gambar. Ini akan meningkatkan daya kreativitas dan kemampuan berkomunikasi si anak.

Ketika saya menerapkan tips ini pada keponakan saya, hasilnya memang melebihi ekspektasi. Saya dan adik sudah bersepakat untuk mengenalkan buku sejak dini kepada anaknya. Jadi, sejak bayi, saya dan ibunya sering membacakan buku di sela-sela waktu senggang kami. Ketika memasuki usia 8 bulan, ia sangat antusias setiap kali saya bacakan buku. Terkadang ia tertawa saat suara saya mengekspresikan rasa terkejut. Sesekali ia memandang saya setiap suara saya melembut mengikuti alur cerita. Di usia yang lebih lanjut, keponakan saya bahkan menunjuk bukunya sendiri untuk dibacakan. Ia akan menunjuk-nunjuk gambar yang ada di lembaran buku, berteriak menirukan suara hewan, atau sekadar menirukan ekspresi wajah saya yang sedih, marah, terkejut, atau bahkan gembira ketika kami membaca buku berkonsep tentang ekspresi wajah. Perbendaharaan kata yang diingatnya cukup banyak dan kemampuan komunikasinya sangat cepat. Saya sendiri takjub!

Salah satu video aktivitas keponakan saya saat membuka buku bersuara yang kami beli di sebuah pameran buku import murah

Membangun Kegemaran Membaca pada Anak Usia 6-10 Tahun

Contoh picture book yang berisi tulisan agak panjang dan membutuhkan sedikit penalaran.

Pada usia ini, anak-anak diharapkan memiliki kemampuan membaca buku yang lebih baik sehingga kita perlu memilih buku yang dapat melancarkan latihan membaca mereka. Buku cerita bergambar merupakan salah satu pilihan yang tepat. Biasanya mengandung gambar yang tidak terlalu banyak dengan tulisan yang tidak terlalu pendek.

Naikkan levelnya jika anak mulai bisa membaca. Padukan juga dengan buku yang memiliki kalimat lebih panjang dan minim gambar sambil sesekali diselingi dengan buku yang unik dan menarik untuk memunculkan stimulus kesenangan terhadap buku. Misalnya dengan menyediakan buku tiga dimensi seperti buku pop up, atau buku jurnal yang berisi penugasan seru, atau buku aktivitas lainnya yang bisa melatih kreativitas anak.

Selain membangun kegemaran membaca, pada usia ini juga bisa kita mulai asah kemampuan menulis anak. Setelah membaca, kita bisa mengajarkan anak untuk menceritakan pengalaman bacanya atau menceritakan ulang apa yang sudah dibacanya, baik secara lisan maupun tulisan. Semakin sering mereka berlatih menulis, semakin baik tulisannya.

Memaksimalkan Budaya Literasi pada Remaja

Remaja adalah usia pencarian jati diri. Anak-anak yang mulai memasuki masa pubertas umumnya masih labil, moody, sulit menentukan pilihan yang tepat dan mudah terpengaruh. Peran keluargalah untuk mengarahkan mereka yang sudah remaja agar tidak salah arah. Maka, dengan memilih buku yang cocok untuk usia remaja, orangtua bisa sekaligus memberikan edukasi bagi pencarian jati diri anak remaja mereka.

Buku bertema dunia remaja, petualangan, motivasi, dan inspiratif cukup baik bagi remaja. Pilihlah yang bahasanya ringan dan mudah dicerna karena remaja biasanya kurang menyukai buku yang agak berat, kecuali kemampuan memahami mereka sudah mencapai level ini.

 

Pilih Buku-Buku Bergizi

Beruang Bilang Maaf – Boardbook Balita

Membangun karakter positif tentu membutuhkan bacaan yang juga bergizi bagi hati, jiwa dan pikiran anak. Buku yang memiliki struktur penceritaan yang kuat adalah pilihan yang tepat karena mampu mempengaruhi kemampuan dan cara berpikir anak. Buku tentang tokoh-tokoh besar dengan segudang prestasi juga tak kalah bagusnya untuk dikonsumsi karena mengandung karakter positif dan kisah hidup yang dapat diteladani.

 

Membuat Jadwal Wajib Membaca

Tentukan jadwal wajib baca kita dan anak-anak. Misalnya, dalam satu hari, kita jadwalkan wajib membaca satu halaman buku yang disukai. Cara lainnya bisa juga dengan membuat jadwal membaca minimal 2 jam dalam satu minggu. Hal-hal seperti ini akan membentuk kebiasaan rutin membaca pada anak.

Membangun Perpustakaan Keluarga

Sejak kecil saya bercita-cita ingin memiliki perpustakaan di rumah. Dan bersyukurnya saya, cita-cita itu saat ini telah berhasil terwujud berkat kemudahan yang diberikan oleh Allah Sang Maha Pemberi. Pojok baca di sudut rumah ternyata sangat besar manfaatnya. Setiap keluarga yang mampu, menurut saya, perlu membangun perpustakaannya masing-masing. Perpustakaan keluarga tak harus mahal. Cukup dengan apa yang kita miliki terlebih dahulu sebagai awalan. Selanjutnya, kita bisa memikirkan bagaimana cara pengadaan bukunya. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menambah bahan bacaan keluarga.

Perpustakaan keluarga bisa digunakan untuk membangun minat membaca dan menulis, tempat berkumpul dan rekreasi sederhana keluarga, juga tempat belajar ilmu dan adab.

Foto Atas: Salah satu rak buku di pojok perpustakaan keluarga kami

Berkunjung ke Perpustakaan, Museum, Pameran dan Toko Buku

Mengunjungi perpustakaan umum yang ada di daerah tempat kita tinggal merupakan salah satu wisata literasi yang cukup ampuh. Kita akan mengenal dunia di luar keluarga kita yang juga dikelilingi oleh buku. Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari berkunjung ke perpustakaan selain bertambahnya antusias anak terhadap buku. Contohnya, kita bisa mengenalkan bagaimana proses pinjam-meminjam di perpustakaan, sarana apa saja yang ada di perpustakaan, dan bagaimana cara menjadi anggota perpustakaan kepada anak-anak. Ini akan membuat binar semangat membaca mereka semakin menyala.

Ruang baca anak di Perpustakaan Daerah Sumatera Utara

Museum juga merupakan pilihan yang sangat menarik untuk mempelajari sejarah. Dunia literasi erat kaitannya dengan sejarah. Mengenalkan sejarah masa lalu kepada anak-anak melalui museum akan menumbuhkan minat baca mereka dengan mencari tahu sejarah lewat buku.

Berjalan-jalan ke pameran buku dan toko buku adalah cara lain untuk meningkatkan minat anak terhadap buku. Tak harus membeli, kita bisa saja hanya mengajak anak melihat-lihat jajaran buku yang menarik di sana. Anak-anak biasanya senang sekali diajak ke toko buku. Bolehlah sesekali belikan buku untuk anak sebagai hadiah. Jika memungkinkan, sediakan budget khusus untuk membeli buku setiap bulannya sesuai kemampuan.

Melakukan Kegiatan Menyenangkan Lainnya

Selain tips-tips di atas, kita juga bisa merancang kegiatan yang menyenangkan seputar buku dan membaca. Misalnya dengan membuat buku sendiri bersama anak-anak, membuat kliping, membuat games tentang buku yang dibaca, mendiskusikan isi buku dengan cara seru, membuat buku aktivitas, mewarnai, belajar menulis yang menyenangkan, dan lain sebagainya.

Peran Masyarakat: Sebagai Rantai Penghubung

Setelah budaya literasi terbentuk di dalam lingkup keluarga, masyarakat adalah tempat kedua yang memiliki pengaruh besar bagi perkembangan seseorang. Tak sedikit yang kemudian selepas mengenal dunia di luar keluarga menjadi kehilangan arah karena pengaruh lingkungan.

Dalam dunia literasi, masyarakat sebetulnya memegang peranan yang cukup penting, ibarat rantai penghubung antar keluarga. Apa saja kegiatan dalam lingkup masyarakat yang dapat mendukung terbentuknya budaya literasi?

Mendirikan Taman Baca Masyarakat

Lembaga dan kelompok masyarakat dapat membuka taman baca-taman baca di lingkungan terdekatnya untuk menyediakan bahan bacaan bagi keluarga yang tidak mampu membeli buku. Kegiatan ini tidak harus dengan biaya mahal. Kita bisa melakukannya dengan peran serta anggota masyarakat juga, misalnya seperti melakukan penggalangan donasi buku.

Sudah banyak taman baca terbentuk di Indonesia. Mulai dari taman baca yang menetap sampai perpustakaan bergerak semisal Kuda Pustaka, Kapal Pustaka, dan sejenisnya. Tokoh-tokoh masyarakat juga mulai banyak yang berbesar hati membuka akses perpustakaan pribadinya untuk umum. Ini adalah sesuatu yang menggembirakan. Semakin banyak taman baca masyarakat, semakin mudah akses terhadap bacaan, semakin beragam orang yang turut merasakan manfaatnya.

Membentuk Komunitas Literasi

Komunitas literasi memiliki peranan penting dalam pertumbuhan budaya literasi. Komunitas ini umumnya berisi para pecinta buku dan literasi yang rela melakukan program kegiatan seputar literasi untuk masyarakat. Ada banyak model komunitas yang bisa dibentuk. Sebut saja komunitas pembaca, komunitas penulis, komunitas pendongeng, komunitas pecinta buku, dan lain-lain. Komunitas-komunitas ini dapat merancang program seperti kegiatan diskusi buku, workshop menulis untuk anak dan dewasa, kegiatan mendongeng untuk anak, wisata literasi dan ide-ide seru lainnya. Semakin ramai kegiatan seperti ini, semakin antusias masyarakat untuk bersama-sama membangun budaya literasi.

Kredit Foto: Kampung Dongeng Medan

Komunitas Literasi: Kampung Dongeng Medan

Kredit Foto: Suarapedia

Taman Baca Masyarakat: Perahu Pustaka Bakauheni Lampung

Penerbitan Buku Berkualitas

Para penerbit adalah ujung tombak dunia perbukuan kita karena keberadaan penerbitlah karya-karya berkualitas penulis akhirnya bisa sampai kepada masyarakat. Beberapa penerbit bahkan juga turut bekerjasama dengan lembaga atau organisasi literasi dalam merancang buku-buku berkualitas yang kaya dengan pembentukan karakter seperti Room to Read dengan Litara dan sebagainya. Organisasi dan penerbit ini biasanya memiliki standar yang tinggi untuk jenis buku anak yang dihasilkan karena mempertimbangkan aspek pendidikan karakternya. Kerennya lagi, buku-buku tersebut dibagikan secara gratis! Jika hal ini diteruskan dan semakin beragam pihak-pihak yang berkolaborasi, dunia literasi kita tentu akan semakin maju.

Buku-Buku hasil kerjasama Room to Read dan berbagai penulis dan penerbit yang dibagikan secara gratis di situsnya.

Peran Pemerintah

Penyediaan Bahan Bacaan

Bagi kita di kota-kota besar mungkin merasakan kemudahan terhadap akses bahan bacaan. Namun, bagi saudara-saudara kita di daerah-daerah pelosok, apalagi yang sulit dijangkau transportasi, ketersediaan bahan bacaan adalah sesuatu yang istimewa. Di sinilah peran pemerintah turut andil dalam pengadaan bahan bacaan.

Bersyukur rasanya di zaman ini ketika saya melihat buku-buku yang ada di sebagian besar perpustakaan sekolah-sekolah adalah buku-buku bergizi yang menarik. Harapannya, program pemerintah dalam pengadaan buku bagi perpustakaan sekolah dan perpustakaan kota atau daerah semakin bertambah sehingga akses buku gratis semakin merata dirasakan masyarakat. Tak ada lagi alasan enggan membaca karena kekurangan bahan bacaan.

 

Menggaet Penulis dan Penerbit Buku

Beberapa tahun terakhir ini, saya melihat ada semacam secercah titik terang bagi dunia perbukuan kita. Pemerintah melalui program literasinya sudah mulai menggaet para penulis dan penerbit untuk membuat buku-buku yang sesuai dengan dimensi pendidikan karakter yang dirancang oleh Kemdikbud. Ini sejalan dengan kurikulum pendidikan karakter yang dicanangkan di sekolah-sekolah. Efeknya, bahan literasi untuk masyarakat semakin baik.

 

Pendidikan Literasi

Pemerintah telah merancang sebuah konsep pendidikan literasi yang lengkap melalui program Gerakan Literasi Nasional yang dilakukan oleh Kemdikbud. Kalau dulu kita hanya mengenal literasi sebatas baca tulis, kini kita bisa memahami bahwa literasi juga mencakup seluruh aspek kehidupan masyarakat.

Selain itu, peran pemerintah dalam upaya membangun komunikasi dengan orangtua melalui sekolah-sekolah juga sangat pesat perkembangannya. Saat ini telah ada GERNAS BUKU, yakni sebuah program Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku, yang mengajak orangtua untuk turut andil dalam membangun literasi anak.

Dalam lingkup sekolah, setiap pagi dicanangkan program literasi sekolah, di mana anak-anak akan membaca buku secara read aloud di depan kelas yang akan diikuti dengan pendalaman bacaan melalui menceritakan ulang lewat lisan dan tulisan. Program ini cukup ampuh melatih kemampuan membaca dan berpikir anak.

 ***

Sebetulnya ada banyak peran pemerintah yang bisa dikembangkan. Dari program-program tersebut, yang terpenting adalah bagaimana ketiga elemen ini saling bersinergi satu sama lain untuk membangun peradaban literasi Indonesia.

Literasi Digital dan Generasi Milenial

Berbicara tentang budaya literasi tentu tidak terlepas dari literasi digital. Di era milenial seperti saat ini, keberadaan dunia digital tidak mungkin bisa kita acuhkan. Menjauhkan diri dari teknologi digital bukanlah sebuah solusi atas sekian banyak permasalahan yang muncul akibat dampak negatifnya. Yang perlu kita lakukan justru bagaimana agar bisa memanfaatkan teknologi digital secara bijaksana.

Anak-anak generasi milenial hingga generasi Z sudah melek teknologi digital. Bahkan, pola kehidupan kita semakin berubah mengikuti alur kebiasaan generasi ini. Penggunaan internet, aplikasi, game dan komunikasi digital seolah dua mata pedang yang memberikan kemudahan sekaligus risiko atas penggunaannya.

Gelombang informasi yang sangat cepat dan hebat ini perlu diolah secara bijak melalui kemampuan literasi digital. Dengannya, masalah hoax, cyber bullying, cyber crime, pornografi dan hal-hal negatif yang diambil masyarakat dari internet dapat diminimalisir sejauh tingkat pemahaman literasi digital masyarakat.

Jika budaya literasi ini bisa kita maksimalkan, saya optimis suatu saat kelak, semboyan Indonesia dalam Gemah Ripah Loh Jinawi akan bertambah menjadi Bangsa Literat. Semoga.

Masa Depan Buku

Ada satu buku yang sangat saya suka. Buku ini sebenarnya buku anak bergambar yang menceritakan fragmen dua sahabat, si Keledai dan si Monyet, tentang buku dan gawai. Judulnya “It’s a Book” yang ditulis dan diilustrasi oleh Lane Smith.

Si Keledai sepertinya sama sekali tidak mengenal buku, sedangkan si Monyet sangat menyukai buku. Keledai selalu bertanya apakah buku yang dibawa Monyet bisa melakukan hal-hal yang dilakukan dengan gawai seperti nge-blog, nge-tweet, wi-fi, scroll down dan aktivitas gawai lainnya. Tentu saja buku tidak dapat melakukan semua itu.

Gambaran ketidak tahuan Keledai atas buku sebetulnya mewakili kekhawatiran kita. Jika budaya literasi tidak segera dikenalkan kepada anak-anak, maka mungkin saja anak-anak masa depan tidak akan mengenal yang namanya buku. Bisa jadi masa depan buku hanya akan tinggal sejarah, hilang tanpa generasi masa depan tahu tentang keberadaannya, dan terkalahkan oleh gawai dan aneka perangkat teknologi canggih.

Apakah kita mau generasi masa depan kita seperti karakter si Keledai ini? Jawabannya ada di dalam diri kita masing-masing.

Selain pengalaman pribadi, referensi yang saya gunakan adalah sebagai berikut:

  • Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza, Hernowo, Penerbit KAIFA tahun 2003, cetakan I
  • Membuat Anak Gila Membaca, Mohammad Fauzil Adhim, Penerbit Pro-U Media tahun 2015
  • Seru Senang Membangun Perpustakaan Keluarga, Choirul W. Syamsudin dan Andita A. Aryoko tahun 2019, cetakan I
  • The Shallows, Nicholas Carr, Penerbit Mizan tahun 2011, cetakan I
  • It’s a Book, Lane Smith, Roaring Brook Press USA tahun 2010, cetakan I

Disclaimer

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Pendidikan Keluarga 2019 bertema “Peran Keluarga dan Masyarakat Dalam Membudayakan Literasi” #SahabatKeluarga #LiterasiKeluarga

Pin It on Pinterest

Share This