Pedestrian dan jalur pesepeda di George Town, Penang – dok. pribadi

Bapak Menteri yang Saya Hormati,

Beberapa tahun lalu, saya sempat berkunjung ke negeri jiran, Malaysia. Karena rencana perjalanan saya di sana sudah terjadwal, saya pun membawa uang sesuai perencanaan yang sudah dibuat. Tentu saja, saya juga menyisihkan dana tak terduga yang tak seberapa. Maklumlah, perjalanan ala backpacker, jadi sebisa mungkin menekan pengeluaran.

Namun, memang sudah rezeki saya barangkali, ya, saat itu dana saya kurang. Saya juga tidak bisa menukar mata uang meski sudah menarik dana dari ATM di luar perencanaan karena tempat penukaran uangnya sudah tutup. Dompet saya nyaris kosong, hanya berisi uang tunai untuk 2 kali makan saja, sambil menunggu esok hari untuk menukarkan ringgit.

Saya berpikir ulang. Bagaimana cara saya melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang saya rencanakan tanpa dana, ya? Jatah libur saya tinggal sehari. Masa iya saya harus mendengkur di kamar saja? Mau jalan kaki ‘kan jauh. Panas lagi.

Mungkin inilah salah satu berkah dari kemajuan transportasi sebuah negara. Saya ternyata tetap bisa melakukan perjalanan minim dana. Waktu itu saya menginap di sekitaran area Bukit Bintang, Kuala Lumpur. Tadinya saya pikir akan sangat melelahkan untuk berjalan kaki karena cuaca hari itu sangat terik. Eh, ternyata saya salah, Pak. Di sana ada pedestrian walkway bridge yang menghubungkan beberapa bangunan sekaligus dari area Bukit Bintang hingga ke KLCC. Saya takjub sekali, Pak. Saya tidak perlu berpanas-panas ria berjalan kaki karena di walkway bridge itu dilengkapi dengan fasilitas AC. Sejuk. Sedikit pun tidak terasa melelahkan meski jarak yang saya tempuh cukup jauh.

Nggak semua tempat menyediakan walkway bridge. Untuk menuju beberapa lokasi wisata, kita harus menggunakan transportasi. Lagi-lagi saya bersyukur. Di sana ada bus kota gratis, Pak. Iya, gratis! Beneran gratis! Saya senang sekali karena tidak perlu mengeluarkan ongkos. Terkecuali untuk lokasi yang sangat jauh, saya terpaksa memangkas uang makan demi menaiki monorail dengan biaya sangat terjangkau. Monorail di sana merupakan transportasi yang terintegrasi.

Bak orang kampung yang belum pernah melihat inovasi transportasi seperti itu, saya terpelanga pelongo dan berdecak kagum menikmati kenyamanan tersebut. Saya membayangkan, “Andai di kota saya juga ada fasilitas seperti ini ….”

Kemajuan Transportasi: Antara Idealita dan Realita

Bapak Menteri yang Saya Hormati,

Tadi itu hanyalah sekilas cerita saya tentang transportasi umum di perkotaan negara tetangga. Tentu saja, lain lubuk lain ikannya. Lain negara tentu lain pula keadaannya.

Ketika ditanya apa keunggulan transportasi Indonesia selama 5 tahun ini, sejujurnya, saya sulit menjawab. Saya bingung. Kemajuan signifikan seperti apa yang sudah saya rasakan berkaitan dengan transportasi, terutama transportasi umum di kota saya? Oh iya, saya tinggal di kota Medan, Pak. Sejauh yang sudah saya rasakan, barangkali bisa dihitung dengan jari kemajuan transportasi perkotaan yang diterapkan di Medan.

Mungkin kalau bicara tentang kota lain, Jakarta, misalnya, saya yakin sudah banyak sekali kemajuan transportasi yang dirasakan. Mulai dari jalan tol tengah kota, bus Trans Jakarta, sampai MRT yang baru itu. Kalau di Medan?

Saya masih harus terjebak macet di banyak titik pada jam-jam sibuk.

Saya masih harus mengalah dengan kendaraan bermotor ketika berjalan di pinggir jalan tanpa trotoar pejalan kaki.

Saya masih harus berhati-hati mengendarai sepeda di tengah-tengah kendaraan bermotor yang serba ngebut.

Saya masih harus merasakan dentuman agak keras saat melewati jalan-jalan berlubang, yang aspalnya sudah tambal sulam.

Saya masih sering mendengar keluhan para supir angkot karena sepi penumpang. Orang-orang lebih suka mengendarai sepeda motor sekarang, Pak. Uang DP-nya murah, bisa dicicil ringan, nggak terjebak macet lagi. Ketimbang naik angkot; sudah lama, macet, panas, tak jarang berkemul dengan bau keringat, asap rokok, atau ludahan seseorang ke luar jendela. Siapa yang sudi, coba? 

Tapi, bagi orang-orang seperti saya yang tidak bisa mengendarai kendaraan bermotor, angkutan kota adalah salah satu pilihan meski harus berdesak-desakan, selain alternatif ojek daring maupun becak. Iya, di kota saya masih ada betor, becak motor. Bagi ibu-ibu atau orangtua yang nggak melek teknologi, betor adalah pilihan terbaik. Tempat duduknya luas, bisa bersantai sembari menikmati angin sepoi-sepoi, pun bisa sambil membawa barang belanjaan dari pasar atau anak yang banyak. Muat satu betor, Pak. Walaupun betor Medan terkenal dengan kebebasannya berkendara. Hanya Tuhan dan si tukang becak yang tahu kapan dia akan berbelok. Tapi begitupun, betor serasa mobil mewah bagi kami dengan supir pribadinya. Nggak repot!

Kalau ditanya ideal, pastinya saya ingin sekali transportasi di kota saya itu maju. Beberapa hal yang saya impikan itu nggak muluk-muluk, Pak. Contohnya seperti ini:

Pejalan kaki dan pesepeda bisa melalui jalur khusus, seperti di George Town, Penang, tanpa harus bersaing dengan kendaraan bermotor.

Ada angkutan kota yang terintegrasi, entah itu monorail, bus Trans, atau MRT seperti di Jakarta, yang bisa menjangkau banyak lokasi jauh dengan fasilitas memadai.

Ada inovasi dari para pengelola mobil angkutan umum kota, sehingga para penumpang bisa menaiki angkot dengan nyaman.

Lalu lintas nggak macet dan riuh. Akan lebih bagus lagi kalau sarana transportasinya mendukung para lansia, orangtua yang kakinya sudah tak kuat, atau penyandang disabilitas.

Nggak muluk-muluk, ‘kan, Pak?

Anda tidak akan bisa mengerti sebuah kota tanpa menggunakan sistem transportasi umum kota tersebut. (Erol Ozan)

Transportasi Unggul dan Kesiapan Mental Masyarakat Kita

 

Bapak Menteri yang Saya Hormati,

Saya ingat, beberapa tahun lalu di persimpangan tiga lalu lintas depan Lapangan Merdeka, Medan, pernah ada fasilitas bel darurat untuk para pejalan kaki yang ingin menyeberang jalan. Jika bel tersebut kita tekan, lampu lalu lintas akan mengatur dirinya untuk berwarna merah, dan kita pun bisa menyeberang. Tapi tak berapa lama bel tersebut rusak dan tidak dipakai lagi. Hanya sebentar saja umurnya.

Lain waktu, saat lampu merah menyala, sebagian kendaraan roda dua dan angkutan umum berlomba cepat-cepatan untuk bisa melewati lampu merah. Entah apa yang mereka kejar. Perkara satu menit saja menunggu pun susah sekali.

Belum lagi kalau kita berkendara di belakang ibu-ibu yang sedang serius mengendarai motor roda dua. Kita kira beliau hendak berbelok ke kanan karena lampu sen kanannya menyala, eh ternyata malah berbelok ke kiri. Kecele saya!

 

sumber: railink.co.id

Bukan pemandangan aneh lagi saat kita menemukan banyak pengguna kendaraan roda dua ugal-ugalan yang masih berseragam SMP di jalan-jalan. Ngebut lagi. Sudah pasti tanpa SIM. Atau mereka-mereka yang berlomba melewati palang tanda peringatan kereta api lewat. Horor, Pak!

Beginilah mental sebagian masyarakat kita, Pak. Saya jadi bertanya-tanya, apakah jika suatu saat dengan dibangunnya sarana moda transportasi berteknologi tinggi, maka masyarakat kita siap menerimanya? Sedangkan membuang sampah pada tempatnya saja sukar sekali terlaksana sepenuhnya. Di sini saya jadi menyadari betapa pentingnya memahami peraturan berkendara dan lalu lintas. Jika semua pengendara dan pengguna jalan paham tata aturan lalu lintas dan mematuhinya, sungguh, jalanan di Medan ini pasti akan lebih nyaman. Itulah kenapa saat kita mengurus SIM, kita harus dites. Iya, ‘kan, Pak?

Bapak Menteri,

Saya mengerti, beban di pundak Bapak Menteri teramat berat. Saya sendiri mungkin tidak sanggup membayangkan upaya seperti apa yang sudah Bapak dan jajaran Kemenhub lakukan untuk menyediakan sarana perhubungan di Indonesia. Pasti sangat berat. Bayangkan saja, darat, laut, dan udara di 34 provinsi. Semua harus dipikirkan. Ya dana, ya SDM-nya, ya semuanya. Belum lagi masyarakat yang nunggak pajak, pasti akan memengaruhi sektor pembangunan.

Seperti mengurai benang kusut, saya yakin, seperti itu pulalah rumitnya memperbaiki perhubungan di Indonesia. Makanya, menurut saya, kemajuan transportasi tidak bisa dilepaskan dari mental masyarakat di sebuah negara. Kita harus saling bahu-membahu, Pak, supaya Indonesia bisa melangkah perlahan-lahan mendekati kemajuan transportasi negara-negara maju.

Perkembangan Transportasi di Medan

Bapak Menteri yang Saya Hormati,

Ada pernyataan bagus yang saya kutip dari Robin Chase, seorang pengusaha transportasi asal Amerika, yang mungkin saja cocok untuk menggambarkan situasi perasaan kita.

Transportasi adalah pusat dunia. Ianya merupakan perekat kehidupan kita sehari-hari. Ketika ia berjalan dengan baik, kita tidak melihatnya. Ketika ada sesuatu yang salah, ia akan mewarnai hari kita secara negatif, membuat kita merasa marah dan mandul, membatasi peluang-peluang kita.

Karena kutipan tersebutlah, meskipun panjang lebar saya bercerita keluh kesah sebagai pengguna jalan raya dan kendaraan umum, sebagai bagian dari rakyat Indonesia, saya juga harus adil, Pak. Beberapa kemajuan transportasi umum di kota Medan tentu saja ada, meskipun mungkin belum maksimal dan bisa dihitung dengan jari jumlahnya. Apalagi yang bisa saya rasakan secara langsung, sungguh, belumlah banyak.

Pembangunan Tol Medan-Tebing Tinggi

Terlepas dari pro kontranya, jalan tol Medan-Tebing Tinggi ini cukup memudahkan perjalanan luar kota. Tol ini bisa memangkas waktu tempuh, yang dulu biasanya saya ke Tebing Tinggi membutuhkan waktu 2 hingga 2,5 jam jika tak macet, kini hanya 45 menit. Ya, tentu saja, untuk memasuki jalan tol, kita harus menyediakan dana yang cukup lumayan. Mau yang gratis? Ya, nggak usah lewat tol. Begitu, tho, Pak?

Jalan tol Medan-Tebing Tinggi juga terkoneksi dengan tol menuju Bandara Kualanamu. Ini tol terindah yang pernah saya lewati di antara tol-tol kota besar yang pernah saya singgahi. Sepanjang mata memandang, hamparan permadani hijau berkelebat kiri dan kanan. Apalagi kalau malam, lampu jalan yang dirancang dengan sensor cahaya dari mobil yang lewat menambah keseruan berkendara. Nikmatilah selagi ada, pikir saya.

Bus Trans Mebidang Medan-Binjai

Pertama kali menaiki Trans Mebidang ini, saya sungguh takjub. Di dalamnya nyaman sekali. Ber-AC, tempat duduknya empuk, bisa sambil baca buku dengan tenang, nggak bau, nggak pengap karena keringat orang-orang, dan jarang berdesak-desakan. Adem pokoknya. Trans Mebidang ini mirip seperti Trans Jakarta konsepnya. Hanya saja, bus ini masih melayani perjalanan Medan-Binjai saja. Binjai itu kota terdekat dari Medan di wilayah Sumatera Utara. Inginnya, sih, ada juga Trans Mebidang untuk titik-titik lainnya. Adanya moda transportasi seperti ini sungguh sangat memudahkan perjalanan yang agak jauh. Jika biasanya ke Binjai harus menaiki angkutan kota yang sumpek, sekarang perjalanan jadi lebih nyaman.

Kereta Api yang Kian Nyaman

Dulu saya malas naik kereta api. Sumpek, padat, dan ribet. Sekarang, kereta api sudah nyaman sekali. Medan-Binjai selain menggunakan Trans Mebidang, alternatif lainnya adalah menggunakan kereta api. Dengan tiket seharga 5.000 rupiah saja dan waktu tempuh 1/2 jam, kita sudah bisa melanglang buana di kota Binjai. Ke kota-kota di Sumatera Utara seperti Siantar, Kisaran, dan lainnya yang bisa dijangkau kereta api pun sangat menyenangkan sekarang. Sembari menikmati pemandangan di kanan kiri lewat jendela KA, kita bisa merenungkan perjalanan hidup yang sudah kita lalui. Uhuk!

Hanya saja, ada satu yang paling penting ingin saya sampaikan, Pak. Itu lho, Pak, sky bridge dari lapangan merdeka ke stasiun KA Medan, nggak selesai-selesai, ya? Padahal jika ada jembatan tersebut, menyeberang jalan di sana akan sangat mudah. Selama ini sulit sekali jika ingin menyeberang di sana. Saya harus melambai-lambaikan tangan ke arah kendaraan yang akan lewat. Bahaya, ‘kan, Pak? Mana nggak ada lampu penyeberangan lagi. Coba bayangkan kalau ada yang mau nyeberang sambil geret-geret koper besar. Wuih, repot sekali pastinya. Semoga ada penyelesaiannya.

Transportasi Bandara yang Memadai

Untuk mencapai bandara Kualanamu, masyarakat Medan bisa menggunakan transportasi umum seperti kereta api Railink. Kereta api ini menyediakan fasilitas yang sangat memanjakan. Kita akan diantar sampai ke pintu masuk bandara. Sangat cepat dan nyaman. Sayangnya, kereta Railink ini masih terbilang sepi penumpang. Mungkin karena harga tiketnya yang lumayan mahal, ya?

Orang-orang yang dananya ngepas akan lebih memilih alternatif lainnya ke bandara, seperti menaiki bus DAMRI. Harga tiketnya sangat terjangkau dan tempat menunggunya ada di beberapa titik.

***

Tuh, ‘kan, nggak banyak, ‘kan, Pak? Mungkin masih ada lagi kemajuan lainnya yang saya belum rasakan atau dengar informasinya. Tapi, beginilah apa adanya. Ini adalah curahan hati saya yang terdalam. Saya yakin, di tempat-tempat lain, mereka pasti punya masalah transportasinya sendiri-sendiri.

Nggak mudah, memang, untuk membangun transportasi yang maju dan terintegrasi di Indonesia. Ini adalah PR besar bagi Kemenhub, selain juga PR besar bagi pemerintah dan para pemerhati sosial dalam menyiapkan kondisi masyarakat kita. Harapannya, saat pembangunan transportasi selesai, masyarakat kita akan turut membantu memelihara fasilitas umum tersebut.

Everywhere I go, I see incredible examples of communities that have a vision for transportation and how it will impact the quality of life, mobility, economics and opportunity (Anthony Foxx)

Saya setuju dengan kutipan bijak di atas, bahwa transportasi akan memengaruhi kualitas hidup, mobilitas, ekonomi dan peluang setiap individu di suatu bangsa.

Kalau saya sendiri suka membayangkan bagaimana inovasi transportasi kita nanti di masa depan. Semua saling terhubung dengan teknologi canggih. Memanfaatkan AI misalnya? Kita nantinya akan bisa mengendarai mobil berbahan bakar hemat energi dan ramah lingkungan, bebas masker dari udara kotor. Saya membayangkan, suatu saat, saya bisa ‘terbang’ di jalan layang menggunakan kereta api listrik. Cukup dengan satu kartu, saya bisa menyambangi banyak tempat. Mirip seperti kereta api di luar negeri itu lho.

Suatu saat nanti, saya berharap, orang-orang di Medan lebih banyak yang menggunakan transportasi umum karena lebih nyaman, sejuk, dan lengkap fasilitasnya. Saya ingin akan ada lebih banyak pejalan kaki yang menikmati betapa menyenangkannya berjalan-jalan di kota Medan yang sejuk dan ramah. Ada pedistrian walkway bridge dan bus wisata kota khusus bagi para wisatawan, jadi nggak tersesat.

Ada fasilitas transportasi yang ramah bagi penyandang disabilitas ataupun orangtua. Seperti ibu saya dulu saat masih sehat, beliau kakinya sudah sering nyeri jika harus berjalan jauh, apalagi menaiki tangga. Saya membayangkan ada eskalator datar yang bisa untuk orangtua dan penyandang disabilitas, atau sekadar tempat duduk khusus bagi mereka di angkutan-angkutan umum di Medan.

Ah, ini sih terlalu muluk. Tapi tak apa dong sesekali mengkhayal imajinasi seperti itu. Siapa tahu Bapak Menteri punya rencana mewujudkannya. Aamiin. Iya, ‘kan, Pak?

Cukuplah mengkhayalnya. Sekarang, mari kembali ke realita kita yang sudah menunggu! ^^

Disclaimer

Tulisan ini diikut sertakan dalam Lomba Menulis Blog Kemenhub bertema “Transportasi Unggul, Indonesia Maju”.  Akun Instagramnya bisa dilihat di @kemenhub151

Pin It on Pinterest

Share This