Menjadi Kontributor Majalah MATIN

Era majalah, katanya sih, sudah berlalu. Kenyataannya, sekarang makin banyak majalah digital yang bisa diakses secara daring. Desainnya malah bagus-bagus dan kontennya menarik. Mungkin karena masih banyak pembacanya, ya? Saya termasuk salah satunya. Saya suka membaca majalah digital, apalagi yang gratis, hehe. Ditambah lagi, zaman sekarang, berbagai bidang keilmuan atau minat memiliki komunitasnya masing-masing. Majalah daring menjadi pilihan terbaik untuk menyebarkan gagasan dan branding komunitas.

Kebetulan, di awal tahun 2025 lalu, saya melihat informasi lowongan kontributor majalah digital di beranda medsos Ustaz Muhammad Abduh Negara. Namanya majalah MATIN dan akan dibagikan secara gratis. Meskipun bukan majalah berbayar, para kontributornya tetap akan mendapatkan honor dari tulisan yang lolos kurasi. Saya pun tertarik mencoba.

Yang terlintas di pikiran waktu itu, jika tulisan saya bisa diterima di sebuah majalah, portofolio karya kepenulisan saya akan bertambah. Jika ingin memperbanyak jam terbang menulis artikel dan esai, menjadi kontributor majalah adalah salah satu pilihan yang tepat. Toh seandainya pun nanti tidak mendapatkan honor, saya tetap akan melamar menjadi kontributor.

Dengan semangat empat lima, saya mulai mengumpulkan tulisan-tulisan yang pernah terbit atau dipublikasikan, baik di media cetak maupun daring. Kemudian saya membuat lembar portofolio. Setelah saya rasa cukup, email lamaran pun terkirim ke redaksi majalah MATIN. Harap-harap cemas saya menanti balasan mereka. Sekitar dua minggu kemudian, email lamaran saya berbalas. Saya diterima menjadi kontributor. Yeay! Alhamdulillah.

Saya dimasukkan ke grup WA, bergabung dengan para kontributor yang lain. Masyaallah, ternyata saya terlambat mendaftarnya. Majalah MATIN Edisi 1 sudah mau terbit. Kata Ustaz MAN, saya bisa ikut menulis di edisi berikutnya.

Nah, di majalah MATIN itu, para kontributor diberi kesempatan untuk mengirim tulisan sesuai dengan tema besar majalah per edisi dengan mengunggah fail tulisan ke drive Google yang sudah disediakan. Selanjutnya, tim redaksi akan mengkurasi tulisan-tulisan tersebut. Ada tiga kriteria tulisan hasil kurasi, yaitu yang lolos tanpa perbaikan, lolos dengan perbaikan, dan yang tidak lolos. Menariknya, para kontributor bisa ikut membaca tulisan-tulisan dari kontributor lain di dalam drive tersebut. Saya banyak belajar dari tulisan teman-teman kontributor.

Saya bersyukur sekali bisa menjadi bagian dari majalah MATIN. Setiap kali edisi baru akan terbit, tim redaksi kadang-kadang membuka kesempatan bagi kontributor untuk langsung memilih tulisan tertentu sesuai permintaan redaksi. Saya selalu excited untuk mengambil peluang tersebut. Alhamdulillah, Allah memberikan saya rezeki berupa buku-buku yang cukup lengkap sehingga bisa digunakan sebagai referensi menulis.

Majalah MATIN dibagikan gratis melalui platform KaryaKarsa. Saya selalu mendoakan semoga Allah memberikan kemudahan urusan dan rezeki yang luas untuk majalah ini, agar operasional tim redaksinya bisa tercukupi. Semoga majalah MATIN bisa menjadi saluran amal jariyah bagi semua pihak yang terlibat.

Tulisan-tulisan saya yang lolos kurasi ada di MATIN edisi 2, 3, dan 4. Untuk mengunduh semua edisi majalah MATIN, bisa klik di sini.

 

  • MATIN Edisi 2 di halaman 48 berjudul “Islam, Budaya Ilmu, dan Konsep Berpikir Benar di Zaman Modern”

Majalah MATIN Edisi 2  Tulisan di MATIN Edisi 2

 

  • MATIN Edisi 3 di halaman 18 berjudul “Syed Muhammad Naquib al-Attas: Antara Sekularisme dan Islamisasi Pengetahuan”

 Majalah MATIN Edisi 3 Tulisan di MATIN Edisi 3

 

  • MATIN Edisi 4 di halaman 61 berjudul “HAMKA: Perjuangan Pena dan Pengabdian kepada Umat”

 Majalah MATIN Edisi 4  Tulisan di MATIN Edisi 4

 

Saya sadar, tulisan-tulisan saya pasti banyak kekurangannya. Jadi, jangan lupa memberikan kritik dan saran yang membangun ya! Doakan saya agar bisa menulis makin baik setiap harinya.

 


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *