Menolak BOP: Jangan Putus Asa dari Rahmat Allah

Saya tidak dapat menahan gejolak di dada ketika membaca berita-berita tentang pertemuan BOP dan keterlibatan Indonesia di dalamnya. Rasanya seperti dikhianati oleh orang terdekat kita. Iya, kebijakan pemerintah tersebut menurut saya tidak tepat. BOP yang kita tahu jelas-jelas ada di bawah kontrol Amerika Serikat, pastinya hanya membuat kebijakan yang menguntungkan bagi AS dan sekutu-sekutunya, termasuk Israel. Apalagi dengan konsep Gaza Baru yang mereka dengung-dengungkan.

Keterlibatan Indonesia di BOP sama saja seperti mengkhianati kemerdekaan negara kita sendiri. Indonesia yang sudah bersusah payah para pahlawannya merebut kemerdekaan, bekas bangsa jajahan, kok ya malah ikut berpartisipasi dalam hegemoni penjajah terhadap suatu bangsa? Palestina pula, salah satu negara yang mendukung kemerdekaan Indonesia berpuluh tahun silam.

Embel-embel ‘peace’ dalam BOP sejatinya bukanlah perdamaian seperti yang dipahami banyak orang. Bukan perdamaian dalam arti kemerdekaan di Gaza, melainkan perdamaian agar sebagian negara senang dan menafikkan kebebasan manusia di Gaza.

Baru kali ini saya merasa seperti putus asa dengan kebijakan pemerintah. Greget, marah, tidak terima, tetapi tidak punya kekuasaan untuk marah. Tidak punya wewenang untuk ikut mengubah semuanya. Pada titik ini, saya hanya bisa menangis sambil duduk menuliskan paragraf-paragraf ini sehabis Subuh.

Lalu saya teringat pesan seorang syaikh yang lewat di IG saya beberapa waktu lalu. Saya tidak ingat siapa nama beliau karena tidak saya simpan. Katanya, “Jangan berputus asa dari rahmat Allah.”

Seketika saya sadar, rasa tidak berdaya yang saya alami pasti juga dialami oleh sebagian besar muslim yang sepemikiran. Namun, selama rasa itu kita kembalikan kepada Allah, atas izin Allah, takdir-Nya akan berjalan dengan pasti. Tetaplah bersuara.

Saya hanya bisa meminta kepada Allah agar Allah berikan saya kekuatan hati dan pikiran, termasuk kesabaran dan kelapangan rezeki, agar saya bisa membantu dengan cara yang lain. Saya hanya bisa meminta kepada Allah yang Maha Penolong, agar membantu saudara-saudara saya di Palestina sana. Saya yakin, ayat-ayat Al-Quran yang Allah turunkan tentang makna sabar dan janji-janji kemenangan itu benar-benar ditujukan kepada bangsa Palestina dan orang-orang beriman.

Di akhir zaman ini, di masa-masa penuh kezaliman, kita hanya bisa menggenggam kuat bara iman di hati-hati kita. Setidaknya, di akhirat kelak, tubuh dan hati kita bisa bersaksi bahwa kita menolak penjajahan dan kezaliman atas manusia lain. Kita bisa bersaksi bahwa keberpihakan kita tetap berada di jalan yang benar.

NB: Tulisan ini saya tulis secara spontan, tanpa edit apa pun. Jika terkesan terlalu emosional, mohon maaf.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *