Dok. Pribadi

Coba Anda bayangkan, saat ini, Anda sedang berjalan menyusuri sebuah perpustakaan pribadi yang sangat besar, berlorong-lorong seolah labirin. Melewati setiap sisinya akan terlihat dinding dengan jajaran rak-rak berisi buku yang jumlahnya puluhan ribu eksemplar. Sebuah meja segi empat besar dengan tumpukan tinggi buku-buku yang tertutup berada di tengah-tengah ruangan, semakin menguatkan nuansa bisu dari deretan punggung buku yang, mungkin saja, telah lama berdiam di sana,  mencoba menarik perhatian seseorang agar mengambilnya. Bisakah Anda membayangkannya?

Anda mungkin akan takjub tentunya. Selanjutnya seperti biasa, saat terbangun dari perasaan takjub, muncul pertanyaan yang sering dilontarkan orang-orang pada umumnya, “Apakah semua buku ini sudah dibaca? Berapa banyak buku yang sudah dibaca?“ Tak sedikit yang mencetuskan pernyataan kagum, “Wow, hebat sekali! Pasti orangnya pintar.” Dan berikutnya, dan berikutnya.

Umberto Eco, seorang penulis asal Italia sekaligus profesor, kritikus sastra, dan juga seorang filosof, memiliki perpustakaan semacam itu. Jumlah koleksinya 30.000 eksemplar buku lebih, belum termasuk 20.000 lainnya di tempat berbeda. Uniknya, penulis novel The Name of the Rose ini membuat kategori tersendiri atas pengunjung perpustakaannya. Pertama, yang menganggap penting buku-buku yang sudah dibaca. Yang kedua, pengunjung yang menganggap buku-buku yang belum dibaca lebih bernilai, yang disebutnya dengan istilah antilibrary. Ia sangat menghargai antilibrary-nya. Ia akan menggunakan antilibrary-nya untuk menggali banyak hal yang belum diketahui.

Buku lazim dianggap sebagai representasi intelektualitas seseorang. Ianya berisi gagasan, hasil pergulatan pikiran penulis setelah melalui banyak proses yang mendalam. Ketika sebuah buku dilepas ke khalayak ramai, ia menjadi semacam perwakilan dari isi kepala seseorang. Tak hanya proses menjadikan gagasan ke dalam sebuah buku itu saja yang membutuhkan usaha luar biasa, membacanya pun membutuhkan investasi waktu yang tak sedikit. Maka, ketika anggapan tentang orang yang memiliki banyak buku dan banyak membacanya adalah sesuatu yang bergengsi, tak sedikit yang kemudian terjebak di dalamnya.

Mengutip tulisan Nassim Nicholas Taleb dalam bukunya yang berjudul The Black Swan, “Kita cenderung memperlakukan pengetahuan kita sebagai hak milik pribadi yang harus dilindungi dan dipertahankan. Pengetahuan seperti sebuah ornamen yang memungkinkan kita naik ke posisi lebih terhormat,” saya jadi teringat akan sebuah fenomena yang sering kita lihat akhir-akhir ini.

Kita cenderung merasa berbangga diri ketika memiliki cukup ilmu. Tak sedikit yang kemudian mudah sekali memberikan komentar atas sebuah permasalahan yang mungkin saja tidak dikuasainya atau tidak diketahuinya secara mendalam. Fenomena ini banyak kita lihat di ranah media sosial maupun forum-forum umum. Alih-alih memberikan pencerahan bagi orang lain yang membacanya, umumnya diskusi dan saling berkomentar seperti itu berujung pada debat kusir yang tidak jelas arahnya. Menyerang pribadi, mencemooh, dan mengecilkan orang lain justru menjadi pilihan akhir bagi mereka yang kalah kuat pendapatnya. Diskusi menjadi ajang menang kalah, bukan berbagi ilmu dan pengalaman. Masih lebih baik ketika yang berkomentar memahami apa yang dikomentarinya. Ia mengerti ilmunya. Yang parah adalah ketika yang memberikan komentar sama sekali tidak memiliki pengetahuan atas sebuah permasalahan. Sudah tidak tahu, sombong lagi. Kacau sudah.

Kalau kita cermati kisah orang-orang salih terdahulu, kita akan mendapati sosok unik yang penuh semangat menuntut ilmu. Ilmu seolah tak ada habisnya bagi mereka untuk direguk dan dipelajari. Seperti kisah laki-laki hebat ini, beliau dikenal kaumnya dari Bani Israil sebagai orang yang paling alim, yang paling baik ilmunya. Iya, beliau adalah nabi Musa ‘alaihissalam.

Suatu ketika, Allah subhanahu wata’ala mewahyukan kepada Musa ‘alaihissalam bahwa ada orang yang lebih alim dari dirinya, yaitu Al-Khidir alaihissalam. Pada masa itu, Musa ‘alaihissalam adalah seorang pemimpin dari kaumnya. Posisi tertinggi yang dimiliki ternyata tidak membuat beliau sombong. Justru kebalikannya, beliau semakin ingin menemui Al-Khidir dan memintanya agar mengajarinya. Menyusuri jejak ikan di lautan bukanlah sesuatu yang mudah. Demi mendapatkan pengajaran ilmu dari Al-Khidir, beliau rela mengalami kesusahan demi kesusahan, juga harus senantiasa bersabar dalam banyak hal. Tentu, tak akan disebut nabi jika kapasitas diri beliau seperti kita. Tapi, tidak berarti kita tidak bisa meneladaninya. Membaca kisah-kisah dari masa lampau adalah penguatan tersendiri bagi kita di zaman ini.

Kisah lainnya adalah kisah Ibnul Jauzi. Keilmuan beliau tentu sudah tidak diragukan lagi. Tapi, ada satu keunikan yang tak banyak orang sekarang memilikinya. Kecintaan penulis kitab Shaidul Khatir ini terhadap ilmu dan bacaan sungguh di luar akal kita. Semasa hidupnya, beliau sudah membaca 200.000 lebih jilid buku, menulis ribuan jilid kitab dan, hingga akhir hayatnya, beliau masih terus mencari ilmu dan mengkajinya.

Mungkin dua kisah ini terlalu jauh jarak waktunya dengan kita. Sulit menjangkaunya? Kita ambil kisah yang lebih dekat dengan keseharian, bapak B.J. Habibie. Beliau memiliki sebuah perpustakaan pribadi yang sangat besar. Meski sudah dikenal sebagai orang jenius di Indonesia, sudah menciptakan rangka pesawat terbang yang mendunia, pak Habibie masih saja sangat mencintai ilmu dan tetap terus mempelajarinya. Ia dedikasikan ilmunya kepada generasi muda Indonesia dalam bentuk nyata.

Orang-orang besar ini tidak pernah berhenti belajar. Bandingkan dengan kita yang, bisa jadi, hanya setelah membaca belasan atau puluhan buku, kita merasa sudah tahu banyak dan jemawa. Kita berhenti mempelajari sesuatu. Kita enggan mengkaji ilmu dan mendalaminya. Alhasil, kita sukar menyampaikan kebenaran dengan argumentasi yang kuat di tengah-tengah keberagaman orang. Kita ingin mengajak orang kepada kebaikan, mencegah kepada keburukan, namun kita lupa mengisi teko kita terus-menerus. Bagaimana bisa kita menuangkan isi teko jika tekonya sudah kosong?

Di dalam Islam, orang yang berilmu memiliki kedudukan yang sangat tinggi di mata Allah ta’ala. Orang-orang berilmu diberi tingkat beberapa derajat lebih baik dibandingkan yang tidak. Tidak berarti ilmu bisa kita jadikan sebagai ajang unjuk gigi. Kepemilikan ilmu tersebut tentu saja harus disertai pula dengan akhlak yang baik dalam penerimaannya, serta amal kebaikan sebagai wujud muaranya. Di sini, ilmu menjadi manfaat bagi banyak orang.

Musa, Ibnul Jauzi, Umberto Eco, dan Habibie memang hidup dalam zaman yang berbeda. Namun, satu benang merah yang ada pada diri mereka, kecintaan pada ilmu tanpa rasa jemawa, seharusnya cukup menjadi pemicu bagi kita untuk juga tidak jemawa dan terus bersemangat mempelajari banyak hal.

“Ilmu itu memanggil pemiliknya untuk beramal, jika ia memenuhi panggilannya. Jika tidak maka ilmu itu akan pergi.”

Ali bin Abi Thalib
Cuplikan video dari perpustakaan milik Umberto Eco


Referensi:
The Black Swan, Nicholas Taleb, Gramedia Pustaka Utama
Kisah-Kisah Para Ulama dalam Menuntut Ilmu, Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah, Kautsar.
Gila Baca ala Ulama, Ali Bin Muhammad Al-Imran, Kuttab Publishing.