Urban Farming Tanam Sendiri Makananmu

Foto: Sawi Petsai (Dok. Pribadi)

“If you have a garden and a library, you have everything you need” – Cicero

Urban farming bukan istilah asing lagi buat kita. Berkebun di area perkotaan dengan lahan yang terbatas,  saat ini, bahkan menjadi tren yang semakin berkembang. Kita bisa melihat sendiri betapa semakin meningkatnya minat banyak keluarga yang menanam sendiri makanannya dengan berbagai model dan teknik berkebun di perkotaan.

Meskipun tidak diketahui secara pasti kapan pertama kalinya praktik urban farming ini dikenal, konsep ini sudah diterapkan sejak masa perang, ketika banyak negara mengalami depresi dan kekurangan bahan pangan. Negara-negara yang terkena imbas perang kemudian menganjurkan warganya untuk memanfaatkan lahan terbuka agar ditanami sayuran dan bahan pangan sebagai bentuk kemandirian di masa penuh kesulitan.

Lantas, apa saja manfaat berkebun di rumah?

Manfaat Urban Farming

Menjadi media penyaluran hobi sekaligus refreshing. Tidakkah menyenangkan saat kita bisa menghirup udara segar di pagi hari sembari melihat sayuran hijau dan buah di halaman rumah kita? Aktivitas ini menjadi terapi bagi jiwa kita yang sudah lelah berkutat dengan aktivitas harian di hari sebelumnya.

Menghasilkan sendiri sebagian bahan makanan sehat dengan rasa nyaman dan aman. Menanam sayur atau buah secara mandiri akan menjamin kehalalannya dan keamanannya dari zat-zat berbahaya seperti pengawet dan pewarna.

Menekan budget belanja. Kenapa tidak? Bayangkan jika tiap-tiap rumah memiliki kebun-kebun mini masing-masing, kita tidak perlu lagi membeli sayuran atau buah organik di supermarket yang harganya relatif lebih mahal dibanding pasar biasa. Paling tidak, kita bisa mengurangi biaya untuk sayur yang kita tanam dan hanya membeli bahan yang kita tidak tanam.

Memanfaatkan barang-barang bekas dan sampah. Barang-barang bekas di rumah bisa kita gunakan untuk wadah menanam, sementara sampah atau limbah dapur bisa kita olah menjadi pupuk kompos.

Mempercantik rumah. Halaman atau taman rumah bisa kita sulap menjadi taman sayuran yang indah dan tentunya menghasilkan.

Menjadi lahan usaha untuk menambah income keluarga dengan cara menjual sayuran yang kita tanam atau mengolah hasil kebun mini kita menjadi produk layak jual.

Metode Berkebun di Perkotaan

Ada banyak metode yang bisa kita pilih untuk berkebun di perkotaan sesuai dengan kondisi lingkungan atau kemampuan waktu dan tenaga kita. Dalam poin ini, saya pribadi lebih suka membaginya ke dalam 3 metode umum yang didasarkan pada penggunaan jenis media tanam, yaitu: Bertanam dengan tanah, hidroponik, dan akuaponik.

1. Bertanam dengan Tanah

Yang paling penting dari metode bertanam dengan tanah ini adalah kesuburan media tanam. Untuk mendapatkan hasil tanaman yang bagus, kita perlu mengondisikan media tanam yang kaya dengan unsur hara dan zat-zat yang dibutuhkan tanaman. Media tanam ideal adalah yang gembur (tidak padat). Contoh komposisi media tanam yang bisa jadi alternatif digunakan antara lain campuran dari:

Tanah + pupuk kompos/pupuk kandang + sekam bakar/arang sekam

Tanah + pupuk kompos/pupuk kandang + pasir + sekam mentah

Tanah + pupuk kompos/pupuk kandang + kerikil kecil + sekam bakar, dll

Media tanam lebih baik mengandung pupuk dasar seperti pupuk kandang atau kompos. Untuk menghindarkan penyakit pada media tanam, kita bisa mencampurkan bahan-bahan lainnya yang berfungsi sebagai pencegah bakteri atau jamur jahat seperti mikoriza, jamur trichoderma, dan lain-lain. Bahan-bahan ini umumnya berupa mikroba atau jamur positif yang tidak berbahaya yang berguna sebagai pencegah penyakit tanaman yang berasal dari media. Contohnya seperti penyakit layu fusarium yang menginfeksi akar, hewan-hewan melata yang memakan akar, dsb.

Dalam penggunaan media tanah, kita dituntut untuk menambahkan pupuk secara berkala agar sayur dan buah lebih maksimal. Untuk skala rumahan, kita bisa menggunakan pupuk organik yang aman bagi lingkungan.  Membuat pupuk sendiri justru lebih direkomendasikan karena sebagian besar bahan-bahannya sangat mudah diperoleh di sekitar kita. Beberapa yang bisa kita buat di antaranya seperti mol (mikro organisme lokal) dari nasi berjamur, pupuk organik cair dari limbah ikan atau udang, pupuk cair dari sisa-sisa buah-buahan atau sayuran, cangkang telur, bahkan kompos dari sampah-sampah dapur.

Untuk wadah tanamnya kita bisa menggunakan botol atau kaleng bekas, polibag, plastik wadah minyak, pot, pipa paralon, dsb. Selain hemat, sampah bisa bermanfaat karena didaur ulang.

Dalam metode bartanam di tanah, ada dikenal istilah sistem tanam companion, atau lumrah disebut permakultur, yakni sistem tanam yang mengombinasikan tanaman-tanaman tertentu dalam satu wadah atau area tanam. Misalnya, menanam sawi di sebelah kenikir atau seledri, cabai di sebelah tomat, dll. Sistem companion ini berguna untuk mencegah penyakit dan hama tanaman secara alami. Ada tanaman tertentu  yang tidak disukai hama atau serangga, ada juga tanaman yang bisa menambah unsur nitrogen dalam tanah, dan lain sebagainya.

 

2. Hidroponik

Hidroponik adalah bertanam dengan media air. Cocok bagi mereka yang tidak suka berkotor ria dengan tanah. Kelebihannya selain bersih, hasil panen bisa lebih maksimal dari bertanam dengan tanah karena pasokan pupuk lebih terukur. Selain itu, nutrisi tidak perlu merusak tanah karena tidak ada penggunaan tanah dalam hidroponik. Hanya saja, biaya untuk membangun sistem instalasi hidroponik ini di awal kelihatannya memang lebih besar dibanding yang hanya dengan tanah, tetapi sifatnya bisa untuk jangka panjang. Yah, kalau dihitung-hitung, jatuh-jatuhnya hampir sama saja.

Penentu utama dalam hidroponik adalah nutrisi hidroponik. Nutrisi hidroponik bisa kita beli dari penyedia pupuk hidroponik. Bisa juga kita buat sendiri jika sudah tahu caranya. Pupuk atau nutrisi hidroponik diracik dari bahan-bahan kimia sintesis yang unsur-unsurnya dibutuhkan tanaman. Tiap jenis tanaman akan berbeda PPM nutrisinya. PPM di sini maksudnya seperti kadar kepekatan atau kadar nutrisi di dalam air. PPM digunakan untuk satuan mengukur nutrisi terlarut dalam air. Yang sangat perlu diperhatikan dari hidroponik adalah kondisi pH (keasaman) dan suhu dari media air. Suhu dan pH ini harus tetap terjaga agar tanaman tidak mati atau kekurangan nutrisi.

Model-model hidroponik ada bermacam-macam. Ada yang model air nutrisi diam/statis, ada yang model mengalir, ada pula model aerasi di mana air disemprotkan ke udara. Model mengalir ada sistem irigasi tetes, NFT (Nutrient Filling System), dll. Masing-masing sistem punya kelebihan dan kekurangannya.  Yang paling sederhana dan mudah adalah model statis, contohnya seperti wick system dan floating system.

Selain langsung menggunakan air, hidroponik juga bisa menggunakan media non tanah seperti sekam bakar, busa, kerikil, sabut kelapa, cocopeat dari sabut kelapa, dsb. Wadahnya bisa dibuat dari botol air mineral bekas, ember, pipa paralon, talang, dll.

 

3. Akuaponik

Metode akuaponik hampir sama dengan hidroponik, termasuk model-model tanamnya yang statis atau mengalir. Yang membedakannya adalah perpaduannya dengan budidaya ikan. Jadi, keunggulan akuaponik ini, kita bisa memanen sayur sekaligus ikan. Kalau di hidroponik, nutrisinya berupa racikan bahan-bahan kimia sintesis, sedangkan di akuaponik, nutrisinya berasal dari limbah kotoran ikan dan unsur-unsur nutrisi yang dihasilkan mikro organisme di dalam kolam.

Selain itu, kita juga membutuhkan bak-bak penyaring dalam akuaponik agar kandungan air kolam yang mengalir ke tanaman bisa terkendali sehingga tidak terlalu pekat atau kadar unsur tertentu yang terlalu tinggi, atau zat-zat yang tidak dibutuhkan lainnya.

Ikan yang bisa dibudidayakan dalam akuaponik juga berragam seperti lele, ikan nila, ikan mas, mujair, gurami dan patin.

***

Dari ketiga metode bertanam ini, semuanya bisa menggunakan jenis sayuran apapun seperti bayam, kangkung, sawi, salada, cabai, tomat, melon, kacang-kacangan, okra, dan lain-lain. Metode mana yang kita pilih tergantung dari kondisi kita masing-masing. Setiap metode ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Yang namanya tanaman pasti tetap berpotensi terserang hama. Maka kita membutuhkan pengendali hama. Tanaman yang sehat tidak akan mudah terserang penyakit tanaman. Tetapi, pada situasi tertentu, terkadang hama atau penyakit tanaman bisa saja datang dan menyerang sayuran kita. Kita bisa membuat pengendali hama sendiri dari bahan-bahan nabati yang biasa disebut biopestisida. Beberapa tanaman yang bisa digunakan untuk membuat pestisida nabati adalah daun mimba, serai, tembakau, kenikir, labu siam, daun sirsak, gadung, bawang putih.

Fakta Seputar Berkebun

Pupuk kimia berbahaya untuk kesehatan?

Faktanya, baik pupuk kimia sintesis (pabrikan) maupun organik yang kita berikan ke media tanam, itu oleh tanaman akan diserap dalam bentuk ion-ion. Pupuk organik harus mengalami penguraian terlebih dahulu oleh mikroba tanah untuk berubah menjadi ion, sementara pupuk kimia tidak membutuhkan penguraian lagi. Analoginya begini; pupuk kimia ini sudah matang, siap dimakan tanaman, sementara pupuk organik harus dimasak dahulu baru bisa dimakan.

Nah, oleh tanaman, ion-ion yang sudah diserap ini akan diubah menjadi karbohidrat, protein, dan unsur lainnya di dalam tubuh tanaman. Jadi yang dimakan manusia itu sudah dalam bentuk karbohidrat, protein, dsb. Zat inilah yang dikonsumsi dan dibutuhkan manusia. Jadi, pupuk kimia sama sekali tidak meninggalkan residu di dalam tubuh tanaman. Tanaman yang dipupuk dengan pupuk kimia atau nutrisi hidroponik tidak mampu menyerap bahan berbahaya yang apabila tanaman itu dimakan manusia akan berbahaya untuk kesehatan. Jika diberi bahan berbahaya dan diserah oleh tanaman, tanaman tentu akan mati, tidak bisa dimakan secara otomatis.

Fakta kedua, yang berbahaya untuk kesehatan itu sebenarnya penggunaan pestisida kimia. Pestisida ini berbahaya karena bahan-bahan kimia mengalami kontak langsung dengan fisik tanaman misalnya disemprotkan, disiram ke daun, dll. Bahan kimia ini akan menempel dan meninggalkan residu pada tanaman. Inilah yang berbahaya bagi kesehatan.

Fakta ketiga, pupuk kimia berbahaya untuk lingkungan seperti tanah, air dan udara. Tanaman itu tidak rakus. Dia hanya akan mengambil makanannya sesuai dengan yang dibutuhkan. Pemberian pupuk kimia yang tidak terukur atau berlebih akan menyebabkan sisa atau residu di dalam tanah. Residu ini lama-lama akan membuat tanah rusak. Itulah mengapa para petani biasanya menyeimbangkan pupuk kimia ini dengan pupuk organik untuk mengembalikan kesuburan tanah lewat mikroba-mikroba pengurai.

***

Ayo, tanam sendiri makananmu! Untuk tips-tips seputar berkebun, saya berencana memindahkan semua catatan saya ke web yuktanam.com agar lebih fokus dan leluasa bercerita. Saat ini situsnya sedang dalam tahap pembangunan. Sampai jumpa di sana, ya.

Buku yang dibaca:

  • Halaman Organik karya Soeparwan Soeleman & Donor Rahayu. Penerbit Agromedia Pustaka
  • Bertanam sayuran hidroponik ala paktani hydrofarm karya Heru Agus Hendra. Penerbit Agromedia Pustaka
  • Komik Hidroponik untuk Semua karya Tim Wealth & Grow. Penerbit W&G
  • Akuaponik ala Mark Sungkar, karya Mark Sungkar, terbitan Agromedia Pustaka
  • Membuat Pestisida Organik, karya Meidiantie Soenandar, terbitan Agromedia Pustaka

Pin It on Pinterest

Share This